Sejarah Air Brake System
Kereta Awalnya, kereta api menggunakan sistem rem udara yang disebut direct air brake system. Sistem ini bekerja ketika udara bertekanan yang dihasilkan oleh kompresor dialirkan melalui pipa rem (brake pipe) ke tangki udara (air reservoir tank). Udara bertekanan kemudian disalurkan ke sistem rem, mendorong piston pada silinder rem (brake cylinder), yang pada akhirnya menekan blok rem ke roda untuk menghentikan kereta. Pada tahun 1869, George Westinghouse menciptakan sistem pengereman udara yang lebih canggih dan aman, yang disebut triple-valve air brake. Tidak seperti direct air brake system yang bekerja dengan menambah tekanan udara, sistem ini justru mengaktifkan rem ketika tekanan udara di pipa rem berkurang. Penurunan tekanan ini menciptakan perbedaan tekanan yang memungkinkan udara dari tangki penyimpan (air reservoir tank) mengalir ke sistem rem, sehingga piston pada silinder rem terdorong dan memaksa blok rem menekan roda untuk memperlambat atau menghentikan kereta.
Air Brake System
Air brake system atau sistem pengereman udara bekerja dengan memanfaatkan udara bertekanan untuk mengoperasikan rem. Proses dimulai dengan kompresor yang menghasilkan udara terkompresi, yang kemudian disimpan dalam tangki udara (air reservoir). Udara bertekanan tersebut dialirkan melalui pipa rem (main reservoir pipe) menuju katup distributor (distributor valve), yang berfungsi mengatur aliran udara ke silinder rem (brake cylinder). Saat rem diaktifkan, udara bertekanan masuk ke silinder rem dan mendorong mekanisme yang akhirnya menyebabkan rem blok terikat pada roda melalui slack adjuster, sehingga terjadi pengereman.
Cara Kerja Air Brake System
Kereta Pada dasarnya cara kerja dari pengereman pada Air Brake System terbagi menjadi 3 hal, yakni :
Charging (Pengisian)
Charging pada Air Brake System memiliki peranan untuk melakukan proses pengisian udara yang terkompresi untuk kemudian disalurkan menuju ke Distributor Valve. Pada saat Automatic Brake yang ada di lokomotif di buka maka udara yang terkompresi mengalir ke Brake Pipe sebesar ± 5 kg/cm2 (standar UIC) kemudian dialirkan ke Distributor Valve melalui Brake Pipe dan diteruskan ke Air Reservoir Tank.
Braking (Pengereman)
Pengereman berlangsung ketika Automatic Brake berada pada posisi aplikasi. Udara dalam Brake Pipe dibuang melalui exhaust, yang menyebabkan penurunan tekanan di Brake Pipe. Distributor Valve mendeteksi penurunan ini, menutup katup yang mengarah ke Air Reservoir Tank, dan membuka saluran udara bertekanan dari Air Reservoir Tank ke Brake Cylinder. Udara bertekanan tersebut menekan membran, memicu piston di Brake Cylinder untuk mendorong Slack Adjuster, yang kemudian mengaktifkan blok rem untuk menekan roda, sehingga proses pengereman terjadi.
Release (Pelepasan)
Ketika Automatic Brake berada dalam posisi release atau melepas, suplai udara dari lokomotif dibuka dan dialirkan kembali ke brake pipe, yang menyebabkan peningkatan tekanan udara hingga mencapai 5 ±1 bar di brake pipe. Tekanan udara yang meningkat ini membuka katup yang mengalirkan udara bertekanan ke tangki air reservoir. Selanjutnya, udara di brake cylinder dilepaskan melalui exhaust karena tekanan dari pegas di brake cylinder, sehingga secara bertahap blok rem terlepas dari roda secara sistematis.